surat perjanjian hutang

Semua orang pasti pernah terbelit dengan hutang piutang. Terkadang seseorang yang mengalami pengalaman tersebut dilakukan dengan terpaksa dan terjadi dalam waktu yang sangat pendek. Itulah sebabnya mau tidak mau, sebagian orang harus melunaskan hutang piutangnya supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Seseorang yang tidak pernah melunaskan hutang piutangnya bisa berakibat fatal seperti putusnya silaturahmi satu sama lain hingga hubungan komunikasi negatif dengan orang lain.

Supaya terhindar dari kejadian tersebut, dibutuhkan surat perjanjian hutang yang berfungsi untuk menjalin kerjasama yang baik dalam melakukan pelunasan hutang dan piutang. Surat perjanjian hutang ini merupakan bagian dari hukum perdata dan dibuat antara kedua belah pihak yang bersangkutan. Biasanya uang yang dipinjamkan terhitung dalam jumlah yang sangat besar dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melunasinya. Selain itu, jenis dari surat ini dibagi menjadi dua macam, yaitu dengan dan tanpa jaminan. Kedua jenis surat tersebut dapat kalian pilih sesuai dengan kesepakatan masing-masing. Supaya kalian dapat mengetahui bagaimana cara membuat surat perjanjian tersebut, berikut info-info dan poin penting yang patut dipahami.

Poin Penting yang Harus di Pahami Dalam Membuat Surat Perjanjian Hutang

membuat surat perjanjian hutang

1. Surat Perjanjian Hutang dengan Jaminan

Jenis kedua surat ini tidak jauh beda dengan cara penulisan surat kuasa karena jenis surat tersebut berhubungan dengan kedua belah pihak. Pihak pertama adalah seseorang yang melakukan hutang sedangkan pihak kedua adalah seseorang yang memberikan hutang kepada pihak pertama. Bedanya adalah pihak pertama harus melampirkan jaminan yang sudah disepakati jika tidak dapat melunasi hutang menurut tenggat waktu yang sudah diberikan. Jaminan-jaminan ini sudah diatur dalam pasal-pasal hukum perdata yang sudah ditetapkan sehingga pembuatan surat perjanjian ini bukan merupakan sesuatu yang main-main. Surat ini biasanya dirangkap dua yang dimiliki oleh kedua pihak dan ditandatangani dengan materai sebagai bentuk persetujuan yang sah. Tentunya, surat ini juga disaksikan oleh empat saksi yang dipercaya kedua belah pihak jika terjadi pelanggaran atau kesalahpahaman yang terjadi pada waktu ke depan.

2. Surat Perjanjian Hutang tanpa Jaminan

Seperti yang sudah dijelaskan pada surat perjanjian sebelumnya, jenis surat ini tidak perlu mendeskripsikan jaminan yang harus dilaksanakan oleh salah satu pihak. Akan tetapi, semua ketentuan penulisan yang terdapat pada jenis surat tersebut sama persis dengan jenis surat perjanjian dengan jaminan. Oleh karena itu, sebelum membuat surat perjanjian tersebut pastikan kedua belah pihak telah mendiskusikan dengan cermat dan hati-hati supaya tidak terjadi cacat hukum.

Berikut potongan surat yang dapat dijadikan acuan untuk kalian:

Pada hari Selasa, tanggal empat bulan Maret tahun dua ribu empat belas (4/03/2014), yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                                :

Pemegang KTP No.        :

Pekerjaan                         :

Alamat                              :

Untuk selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA

Nama                                :

Pemegang KTP No.        :

Pekerjaan                         :

Alamat                              :

Untuk selanjutnya disebut PIHAK KEDUA

Maka melalui surat perjanjian ini, kedua belah pihak telah menyepakati dengan segala ketentuan-ketentuan sebagaimana tercantum di bawah ini:

Itulah sekelumit informasi mengenai surat perjanjian yang bisa kalian gunakan sebagai pedoman. Surat perjanjian ini sangatlah bermanfaat bagi semua orang supaya tidak terjadi hal-hal yang merugikan lingkungan sekitar. Jika kalian kebingungan untuk membuat surat perjanjian tersebut dan tidak ingin mengalami cacat hukum selama proses berlangsung, kalian dapat konsultasi mengenai surat perjanjian tersebut kepada notaris yang ahli dalam bidang tersebut.