Dampak Impor Daging Sapi Beku

Impor daging sapi beku yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan harga daging sapi di pasaran dinilai hanya berdampak dalam jangka pendek. Permasalahan harga daging sapi yang selalu tinggi apalagi pada masa-masa hari raya adalah masalah klasik yang sejak dulu belum ada solusi jitunya. Pemerintah lebih suka mengimpor daging sapi karena memang ini solusi yang paling cepat dan tidak memusingkan. Dengan mengimpor daging sapi, diharapkan bisa memenuhi permintaan masyarakat akan daging sapi yang selama ini tidak bisa dipenuhi oleh produksi sapi nasional. Sebenarnya hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan terkait impor daging sapi beku. Berikut adalah beberapa diantaranya:

Harga daging sapi beku lebih murah

Pengadaan daging sapi beku memang seperti angin segar bagi masyarakat karena dijual dengan harga yang lebih murah dan berasumsi bahwa daging beku pasti lebih awet dibandingkan daging sapi yang segar. Kenyataannya impor daging sapi beku ini justru tidak mendapatkan respon yang positif ketika sudah dipasarkan. Alasan yang pertama adalah harganya memang lebih murah, tetapi daging sapi beku ini memiliki kandungan air yang lebih banyak sehingga bobot daging yang sebenarnya lebih rendah dibandingkan yang ada pada kemasan. Alasan yang kedua adalah daging beku tidak lebih awet dibandingkan daging segar bahkan cenderung lebih cepat busuk karena kandungan airnya yang tinggi.

Minimnya informasi mengenai asal daging

Daging sapi beku yang kurang diminati oleh masyarakat ini juga disebabkan karena minimnya informasi mengenai asal daging sapi seperti cara pemotongan, waktu pemotongan, apakah diproses secara higienis atau tidak, dan sebagainya. Akibatnya masyarakat masih memilih daging yang segar yang jelas dan nampak kualitasnya dibandingkan daging sapi beku yang masih diragukan. Untuk mengatasi hal ini pemerintah diminta untuk melakukan sosialisasi mengenai kejelasan dari daging sapi beku jika ingin program impor daging sapi beku ini berhasil, setidaknya untuk jangka waktu pendek.

Merugikan penjual di pasar tradisional

Dampak impor daging sapi beku juga dirasakan oleh pedagang-pedagang daging di pasar tradisional. Pasalnya mereka kesulitan untuk menjual daging sapi beku karena tidak punya cold storage untuk menyimpan daging agar tetap beku. Daging sapi yang dibekukan hanya akan bertahan selama tiga jam saja jika diletakkan di tempat terbuka dan dalam rentang waktu tersebut kualitas daging tentu akan menurun karena air esnya mulai mencair dan memudahkan daging untuk ditumbuhi oleh bakteri.  Oleh karena itu daging sapi beku lebih banyak dijual di supermarket-supermarket di mana rata-rata konsumennya memiliki daya beli yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang belanja di pasar tradisional.

Tidak cocok untuk program operasi pasar

Pemerintah memutuskan untuk memberikan kuasa kepada Bulog untuk melakukan impor daging sapi beku ke Indonesia. Impor daging sapi beku tadinya dilakukan oleh importir swasta yang target pasarnya adalah untuk kebutuhan katering, restoran, dan juga hotel. Oleh karena itu menurut Thomas Sembiring, ketua dari Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia, mengatakan bahwa langkah pemerintah untuk menyerahkan impor daging sapi beku ke Bulog dinilai kurang tepat apalagi untuk kebutuhan operasi pasar.

Banyak yang menyayangkana keputusan pemerintah untuk melakukan impor daging sapi beku demi kebutuhan daging sapi rumah tangga di Indonesia. Karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah solusi jangka panjang seperti misalnya meningkatkan jumlah populasi sapi potong di Indonesia, hingga mengimpor bibit sapi dan menyebarkannya di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini seharusnya dilakukan untuk mengantisipasi dampak impor daging sapi beku yang dinilai belum efektif dan efisien untuk menekan harga daging sapi yang tinggi.