4 Faktor Penyebab Tingginya Biaya Pendidikan

Biaya pendidikan tahun ajaran baru semakin meningkat setiap tahun. Padahal, setiap tahunnya anak-anak di Indonesia memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,. Di saat yang bersamaan Indonesia memiliki peraturan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa anak yang berusia 7-15 tahun berhak untuk mendapatkan pendidikan minimal pada jenjang dasar tanpa adanya pungutan biaya alias biaya ditanggung pemerintah. Pada kenyataannya yang digratiskan hanyalah biaya pendaftaran saja, sementara bagi sekolah-sekolah lain terutama sekolah swasta masih membebankan biaya pendidikan dalam bentuk lain dengan alasan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Tidak hanya di tingkat sekolah dasar, biaya pendidikan tahun ajaran baru juga semakin meningkat setiap tahunnya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Biaya pendidikan yang semakin tinggi bisa berdampak pada keluarga menengah ke bawah yang semakin tidak bisa menjangkau kebutuhan biaya hidup apalagi untuk sekolah. Sebenarnya faktor apa saja yang menyebabkan biaya pendidikan tahun ajaran baru di Indonesia semakin tinggi? Berikut ulasannya:

Permintaan dan supply tidak seimbang

Seperti layaknya hukum ekonomi apabila ada banyak permintaan namun supply produknya sedikit maka bisa mengakibatkan kenaikan harga. Hal itulah yang terjadi pada biaya pendidikan tahun ajaran baru di Indonesia. Setiap tahunnya banyak anak yang ingin melanjutkan sekolah dan mendapatkan sekolah yang bagus sementara instansi pendidikan yang memiliki kualitas dan reputasi bagus di masyarakat belum memadai jumlahnya. Akibatnya sekolah-sekolah yang bagus menjadi rebutan dan membuat biaya untuk masuk menjadi semakin besar.

Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah

Penyebab biaya pendidikan tahun ajaran baru yang semakin mahal kedua adalah adanya penerapan MBS atau Manajemen Berbasis Sekolah. Pada intinya MBS adalah pemberian hak otonomi dari pemerintah ke Komite Sekolah untuk menentukan pengelolaan dana yang diterima dari pemerintah untuk kepentingan pendidikan yang berlangsung di sekolah tersebut. Tetapi pada kenyataannya, banyak praktek MBS yang tidak pada tempatnya. Komite Sekolah anggota-anggotanya sebenarnya adalah orang-orang yang dianggap punya kuasa dan tidak mewakili kepentingan keluarga siswa yang miskin. Sebagai contoh, mereka meminta iuran ini itu dengan alasan kepentingan pendidikan padahal kerap transparansinya tidak ada.

Perubahan status pendidikan

Pemerintah mengeluarkan RUU tentang Badan Hukum Pendidikan yang kemudian berdampak menjadi semakin tingginya biaya pendidikan tahun ajaran baru terutama untuk sekolah-sekolah favorit. Karena peraturan ini pula, perguruan tinggi saat ini berstatus Badan Hukum Milik Negara di mana tanggung jawab pendidikan berpindah tangan dari pemerintah ke pemilik badan hukum tersebut. Ini juga yang menyebabkan biaya perguruan tinggi favorit semakin melambung tinggi.

Kondisi perekonomian Indonesia

Tingginya biaya pendidikan tahun ajaran baru juga tidak lepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang katanya cukup stabil tetapi nyatanya semua harga-harga mengalami kenaikan. Kenaikan harga ini adalah produk dari melemahnya nilai rupiah di mata dunia. Kondisi perekonomian yang belum stabil membuat pemerintah banyak melakukan privatisasi pada sektor pendidikan demi meringankan beban utang negara pada APBN.

Akhirnya, setiap tahun masyarakat Indonesia selalu dilanda masalah yang sama dan dipusingkan dengan bagaimana caranya agar anak bisa tetap sekolah, melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi meski biaya pendidikan tahun ajaran baru tidak pernah berhenti naik. Dibutuhkan kerjasama dan komitmen yang baik antara kebijakan pemerintah, lembaga pendidikan, dan juga masyarakat agar kualitas pendidikan di Indonesia bisa meningkat tanpa harus mencekik para orang tua dengan tingginya biaya pendidikan di setiap tahun ajaran baru.