Pegadaian Syariah dan Akad Teknik Transaksinya

Pengertian Pegadaian Syariah

Apa itu pegadaian syariah (Rahn)? Pegadaian syariah secara ringkas merupakan semacam jaminan utang atau gadai. Lebih jelasnya pegadaian syariah merupakan sistem menjamin utang dengan barang yang dimiliki yang mana memungkinkan untuk dapat dibayar dengan uang atau hasil penjualannya. Pegadaian syariah bisa pula diartikan dengan menahan suatu barang milik penjamin sebagai jaminan atas sejumlah pinjaman yang diberikan. Tentunya barang penjamin harus mempunyai nilai ekonomis dan pihak penjamin mendapat jaminan bisa mengambil seluruh ataupun sebagian piutangnya kembali.

Adapun sistem pegadaian syariah (Rahn) hampir sama dengan pegadaian konvensional. Sistem implementasi pegadaian syariah menyalurkan sejumlah uang pinjaman dengan jaminan barang. Prosedurnya cukup sederhana. Masyarakat yang ingin menggadai barang yang dimiliki hanya perlu menunjukkan identitas diri dan barang yang digunakan sebagai jaminan untuk meminjam uang. Selanjutnya, uang pinjaman akan diberikan dalam waktu relatif singkat. Sementara untuk melunasi pinjaman masyarakat hanya diharuskan menyerahkan uang kembali beserta surat bukti pegadaian syariah saja. Prosesnya singkat tidak memakan waktu lama.

 

Teknik Transaksi Pegadaian Syariah

 

Seperti yang sudah disebutkan proses transaksi pegadaian syariah (Rahn) amat singkat. Adapun prosesnya dilakukan dengan teknik transaksi yang jelas berbeda dengan pegadaian konvensional. Teknik transaksi pegadaian syariah berjalan pada 2 akad transaksi syariah, diantaranya yaitu:

  1. Akad Rahn
Akad Rahn

Akad Rahn (sumber gambar: ekbis.sindonews.com)

Akad rahn menjadi awal berlakunya proses penahanan barang milik peminjam sebagai jaminan dari uang yang diterima. Karenanya, dengan akad ini pihak pegadaian memiliki hak menahan barang jaminan untuk uang nasabah. Adapun orang yang menggadaikan disebut rahin, sedangkan orang yang menerima gadai disebut murtahin. Barang yang digadaikan disebut marhun dan utang yang diberikan disebut marhun bih.

Baca Juga : Inilah Keuntungan Memiliki Tabungan Emas Pegadaian

Dalam hal ini ada syarat atau rukun terkait pelaku dan obyek gadaian yang mesti dipenuhi. Pelaku harus baligh dan cakap hukum sedangkan obyek yang digadai mesti memiliki nilai ekonomis, bisa dijual dengan nilai seimbang, bisa dimanfaatkan, jelas, dapat ditentukan secara spesifik, dan tidak terkait dengan hak kepemilikan orang lain. Demikian pula dengan marhun bih yang diberikan mesti jelas dengan jatuh tempo yang juga jelas.

  1. Akad Ijarah
Akad Ijarah

Akad Ijarah (sumber gambar: ifsa.or.id)

Merupakan akad pemindahan hak guna untuk barang dan jasa melalui pembayaran upah sewa. Hanya saja tidak disertai dengan pemindahan kepemilikan barang yang dimaksud. Untuk akad ijarah ini terdapat beberapa rukun seperti orang yang berakad seperti rahin dan murtahin, ada ijab qabul, marhun, dan marhun bih.

Mekanisme pegadaian syariah (Rahn) cukup mudah dipahami. Adapun melalui akad rahn nasabah memberikan barang jaminan dan selanjutnya pihak pegadaian akan menyimpan barang jaminan di tempat yang sudah disediakan. Dalam hal ini, pihak pegadaian dibenarkan untuk mengenakan biaya sewa kepada pihak nasabah dengan jumlah sesuai kesepakatan bersama sehingga pihak pegadaian mendapatkan keuntungan dari bea sewa tempat dan bukan bunga dari besar uang yang dipinjamkan.

Di pegadaian syariah ini, semakin besar nilai taksiran barang, maka akan semakin besar pula pinjaman yang bisa didapat. Jenis-jenis barang berharga yang diterima sebagai jaminan pegadaian syariah diantaranya perhiasan, kendaraan bermotor, barang elektronik, mesin, dan barang keperluan rumah tangga seperti barang tekstil atau barang pecah belah. Adapun bila nasabah ternyata tidak bisa mengembalikan pinjaman, maka barang jaminan kelak akan dilelang sebagai pengganti.

Mekanisme pegadaian syariah ini dirasa memberi banyak manfaat dan keuntungan. Salah satunya, bagi masyarakat yang tengah membutuhkan dana mendesak sekiranya bisa mendapat kemudahan dengan mekanisme pegadaian syariah (Rahn).