Akhir-akhir ini penduduk di banyak negara dikejutkan dengan bocornya dokumen rahasia yang mengungkap adanya pengalihan kekayaan ke negara-negara bebas pajak (tax havens) oleh beberapa tokoh-tokoh terkemuka di berbagai negara. Terkuaknya hal ini menunjukkan bagaimana praktik penghindaran pajak, penggelapan uang, korupsi dan sebagainya masih terjadi secara besar-besaran dan tersembunyi. Melihat kasus panama papers, mari kita lihat bagaimana jalan cerita sampai dokumen rahasia tersebut dapat bocor dan dilihat oleh masyarakat global.

Salah satu kasus terbesar di dunia. Sumber: bbc.co.uk

Kasus ini bermula dari kumpulan dokumen rahasia yang jumlahnya mencapai 11,5 juta dibuat oleh perusahaan jasa perbankan asal benua Amerika bernama Mossack Fonseca. Perusahaan ini merupakan firma hukum dan penyedia jasa pengelolaan asset perusahaan didirikan yang pada tahun 1977 oleh dua orang rekan, yaitu Jürgen Mossack dan Ramón Fonseca. Perusahaan ini bertanggung jawab untuk mengawasi dan mengatur jasa-jasa perserikatan dan perwalian asset dari suatu perusahaan. Fokus utamanya adalah melindunggi aset, perencanaan pajak, dan properti.

Dokumen yang bocor tersebut berisikan informasi detail yang melibatkan lebih dari 214.000 perusahaan termasuk identitas dari stakeholder dan direktur perusahaan yang menjadi klien dari Mossack Fonseca. Seorang sumber anonim memberikan dokumen berukuran 2,6 terabyte ini kepada Suddeutsche Zeitung dan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Oleh keduanya, dokumen ini dianalisa kurang lebih bersama 400 wartawan dari 107 organisasi media di hampir seluruh negara berbeda. Hasil analisa dari para jurnalis ini kemudian dirilis pada laporan berita pertama tanggal 3 April 2016 lalu. Banyak tokoh dan pemimpin negara ataupun para pengusaha besar yang masuk ke dalam hasil investigasi dokumen Panama Papers ini. Beberapa tokoh pemimpin negara yang terlibat, antara lain:

Mauricio Macri (Presiden Argentina)

Khalifa bin Zayed Al Nahyan (Uni Emirat Arab)

Petro Poroshenko (Ukraina)

Raja Salman (Saudi Arabia)

Sigmundur Davd G ( PM Islandia), dan lainnya

Data-data yang dianalisa oleh para jurnalis diambil dari laporan hasi terbitan pada tahun 1970-an sampai tahun 2016 ini. Bentuk berkas rahasia ini adalah dokumen seperti surel, kontrak, transkrip, dan dokumen pindaian (scan), dan juga PDF.

Hasil dari investigasi ini juga ternyata menyeret nama-nama besar yang ada di Indonesia, sehingga momentum akan kebocoran Indonesia dari sektor penghasilan pajak dari orang-orang besar ini semakin menguak ke permukaan. Terseretnya nama-nama tersebut tentunya menyebabkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor bisnis korproasi besar di Indonesia semakin berkurang. Beberapa nama besar yang terseret tersebut, antara lain:

James Riady (Owner dari grup Lippo)

Fransiscus Welirang (Direktur Pt. Indofood Sukses Makmur)

Sandiaga Uno (Pengusaha terkemuka dan bakal calon Gubernur DKI Jakarta periode mendatang)

Chairul Tanjung (Multinational Company owner di Indonesia pada Para Group, bidang banking dan consumer goods), dan lainnya

Sumber: globalresearch.ca

Dokumen yang diperoleh konsorsium jurnalis global ini juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa perusahaan yang berada di kawasan surga pajak (offshore companies) yang dikendalikan oleh perdana menteri dari Islandia dan Pakistan, Raja Arab Saudi, dan anak-anak Presiden Azerbaijan. Yang menjadikan kasus ini menjadi suatu bukti kecurangan dalam keuangan dan tergolong parah, dikarenakan orang-orang yang tercatat namanya adalah orang-orang yang juga bermasalah di negara masing-masing maupun di kalangan bisnis global. Misalnya, seperti di Indonesia, nama-nama kontroversial seperti Mohammad Riza Chalid (pengusaha ritel) dan Djoko Soegiarto Tjandra (pengusaha properti). Mereka adalah dua orang yang kerap dicari oleh penegak hukum untuk kepentingan penyidikan kasus korupsi.

Fenomena kasus global ini sejatinya dari sudut pandang para pebisnis adalah sesuatu yang wajar, karena itu adalah suatu naluri bagi mereka untuk bisa menyimpan keuntungan sebesar-besarnya dan mengeluarkan biaya seminimal mungkin. Namun, dari sudut pandang etika dan kebangsaan, tentu hal ini adalah suatu pengkhianatan bangsa, karena mereka dengan sengaja menghindari pajak yang seharusnya diperuntukkan bagi pembangunan bangsa dan negara. Mereka terkesan egois dan tidak memikirkan negara yang sedang membutuhkan banyak pendapatan untuk melakukan percepatan pembangunan di berbagai sektor.

Tetapi, di luar pro dan kontranya, Panama Papers, skandal keuangan terbesar di dunia ini, telah menjadi pembicaraan yang tidak akan pernah surut dan menjadi bukti pencapaian penyelidikan data terbesar yang pernah dilakukan oleh para jurnalis di sektor keuangan dunia.