4 Penyebab Pemutusan Hubungan Kerja

PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) besar-besaran yang diisukan terjadi sejak perlambatan ekonomi tahun lalu, sebenarnya bukan satu-satunya masalah serikat pekerja di Indonesia. Memang masalah PHK adalah masalah dengan strata tertinggi bagi pekerja mengingat pendapatan  yang otomatis terhenti dari perusahaan ke pekerja. Terlebih jika sumber pendapatan tersebut merupakan sumber tunggal yang akan mengganggu  kehidupan satu keluarga.

Hal ini pun mengingatkan Anda pada berita akhir-akhir, dimana perusahaan elektronik, otomotif bahkan pertambangan dan perminyakan yang beroperasi di Indonesia akhirnya melakukan perampingan pekerja. Isu yang berkembang bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tutup atau merger karena ada campur tangan politik. Namun, ada beberapa  hal yang bisa melatarbelakangi perusahaan tutup atau merger. Berikut ini adalah beberapa penyebab Pemutusan Hubungan Kerja:

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) (sumber gambar: indonesianreview.com)

Persaingan usaha

Perdagangan sangat lekat dengan persaingan usaha termasuk untuk industri skala besar sekalipun. Jadi tidak heran apabila manajamen salah membuat stategi bisnis akan membuat perusahaan rugi karena produk kalah bersaing di pasaran. Namun kebijakan manajemen bukan satu-satunya penyebab perusahaan bisa kalah bersaing di pasaran.

Perkembangan teknologi

Karena operasional bisnis juga bergantung pada teknologi, perusahaan harus melakukan penyesuaian dengan perkembangan teknologi agar produk yang dijualnya tetap laku dipasaran. Kondisi inilah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan elektronik yang baru-baru ini mempensiunkan dini pekerjanya.

Faktor eksternal

Dalam bisnis ada faktor-faktor yang bisa diukur, dan dikendalikan agar bisa membuat perusahaan tetap beroperasi dan mendulang untung. Namun, ada faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan, sebut saja harga minyak dunia yang sedang lesu akibat perlambatan ekonomi. Kondisi ini tidak bisa dikendalikan, sehingga tidak heran jika beberapa perusahaan perminyakan merampingkan karyawannya.

Faktor internal

Dalam bisnis ada faktor-faktor yang bisa diukur dan dikendalikan, seperti ongkos produksi, biaya energi, upah pekerja, dan lain sebagainya. Meski bisa diukur dan dikendalikan, tetapi tidak mudah mengelola hal ini. Apalagi jika berbicara tentang upah pekerja yang selalu tidak ideal menurut salah satu pihak.

Urusan pengupahan memang sangat krusial mengingat pemasukan ini digunakan untuk membiayai kehidupan perkerja dan keluarganya. Di sisi lain, pengupahan merupakan hitung-hitungan yang rumit, sehingga membuat pengusaha dan pemerintah harus bolak-balik merevisi pengupahan ini setiap tahunnya.

Bukan rumit dalam perhitungan matematisnya, tetapi penggunaan formulanya, dan bagaimana hitung-hitungan tersebut terprediksi dan realistis, baik bagi pengusaha maupun pekerja. Sebab apa yang realistis bagi pengusaha bisa dinilai tidak realistis oleh pekerja, misalnya pada komponen biaya rumah, biaya transport, dan uang makan. Sementara apa yang realistis bagi pekerja bisa dinilai tidak realistis oleh pengusaha, misalnya minyak wangi, jaket, kaos, dan,alas kaki.

Pemerintah kemudian memberlakukan perhitungan upah pekerja dengan menggunakan formula UMP (Upah Minimum Provinsi) ditambah perhitungan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tertuang dalam RPP Pengupahan (Rancangan Peraturan Pemerintah). RPP Pengupahan memang sesuatu yang dibuat untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha karena kenaikan upah pekerja selama ini dinilai tidak dapat diprediksi, serta menjembatani hubungan industrial antara pengusaha dengan pekerja.

Masalah pengupahan selalu tidak ideal menurut salah satu pihak. Pada intinya baik pengusaha maupun pekerja, sebenarnya saling membutuhkan. Mengingat perusahaan dapat beroperasi karena mensinergikan tiga elemen, yaitu pengusaha, manajemen, dan pekerja. Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan meski memiliki motivasi yang berbeda. Ingatlah apabila salah satu komponen hilang atau dibuang tentu akan berakibat pada tidak beroperasi aktivitas perusahaan.

Please follow and like us:
20